Selasa, 22 Januari 2019 

Cermin Hati

31/10/2016 – 17:52

Oleh: Wahyu Priyono

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Kesempurnaan manusia terletak pada kelangkapan unsur manusia yang terdiri atas jasad, ruh (hati), dan akal. Kesempurnaan akan terus terjaga jika manusia berhasil menjaga kesimbangan dan keharmonisan fungsi dari ketiga unsur tersebut. Dari ketiga unsur tersebut, hati merupakan unsur terpenting yang menentukan baik buruknya perilaku manusia.

Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya yang artinya, “Telah Aku ciptakan jiwa manusia dengan sempurna. Aku ilhamkan dalam hatinya jalan keburukan dan jalan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan hatinya, dan celakalah orang-orang yang mengotori hatinya” (QS. 91:7-10). Sejalan dengan ini, ada hadits Nabi yang artinya, “ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, yang apabila baik segumpal daging itu maka akan baiklah seluruh perilakunya. Dan apabila buruk segumpal daging itu maka akan buruklah seluruh perilakunya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Dari kedua sumber hukum tersebut, sangat jelas dipahami bahwa kondisi hati manusia adalah sumber dari kebaikan maupun  keburukan perilaku manusia. Jika hati manusia dalam keadaan baik, maka akan baiklah perilaku manusia. Dan sebaliknya, jika hati manusia dalam keadaan buruk, maka akan buruklah perilaku manusia. Makanya, tidaklah mengherankan jika di muka bumi ini akan selalu ada orang-orang yang berperilaku baik dan orang-orang yang berperilaku buruk/jahat. Karena memang setiap manusia diberikan potensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk.  Di sinilah pentingnya bagi setiap manusia yang menginginkan kebaikan untuk terus berusaha menjaga hatinya agar senantiasa dalam keadaan yang baik.

Imam Ghazali mengibaratkan hati manusia sebagai cermin, sedangkan petunjuk Tuhan sebagai nur atau cahaya. Dengan demikian, jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan, pada dasarnya disebabkan oleh tiga kondisi.

Pertama, cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin hati yang dimilikinya. Cermin yang kotor terjadi karena jarang dibersihkan oleh pemiliknya, sehingga debu-debu dan kotoran lainnya yang menempel di cermin semakin hari semakin banyak dan menutupi hampir seluruh permukaan cermin. Manusia yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang kesehariannya selalu dilumuri dengan perbuatan-perbuatan dosa, maksiat, kotor dan merusak.

Kedua, di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menembus cermin tersebut. Penghalang itu sifatnya tidak permanen, artinya bisa datang suatu saat dan bisa dihindari atau pun disingkirkan kapan pun sesuai kemauan pemiliknya. Manusia yang termasuk dalam kategori ini, adalah orang-orang yang menjadikan harta, tahta, wanita dan kesenangan dunia lainnya sebagai orientasi atau tujuan hidupnya, sehingga tenaga, pikiran, dan perasaannya hanya tercurah untuk urusan dunia dengan mengabaikan kepentingan akhirat.

Ketiga, cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya, hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang terburuk, di mana si pemilik cermin dengan sengaja meletakkan cermin membelakangi cahaya, tidak bersedia bahkan menolak cahaya itu menembus cerminnya dan menyinari ruang di sekitarnya. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang atheis/kufur yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan.

Maka, agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening, ia harus senantiasa berusaha membersihkan diri dengan jalan mengendalikan nafsu-nafsu rendah dan mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai aktivitas ketaatan dan kebaikan. Tentu saja ketaatan yang sifatnya wajib dan aktivitas lain yang dianjurkan atau disunnahkan, seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, menjenguk orang sakit, takziyah, membaca Al-Qur’an, dan aktivitas lainnya yang senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir  dan doa. (WP).