Senin, 21 Agustus 2017 

APA YANG MEMBUAT KITA BERTAHAN BEKERJA DI SUATU TEMPAT?

19/12/2016 – 17:16

Oleh: Wahyu Priyono

Sudah berapa lamakah anda bekerja di tempat kerja yang sekarang? Masihkah anda betah dan bertahan sampai akhir/pensiun nanti? Apa yang menyebabkan anda betah atau masih bertahan sampai sekarang? Tentunya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat tergantung dari kondisi hati masing-masing, karena hati merupakan sumber dari timbulnya niat dan motivasi seseorang termasuk dalam bekerja. Meskipun setiap orang berbeda-beda niat dan motivasinya, namun secara garis besar dapat dikelompokkan dalam delapan kategori berikut

  1. MEMENUHI KEWAJIBAN

Ini adalah motivasi bekerja yang paling rendah tingkatannya, hanya ingin memenuhi atau menggugurkan kewajibannya saja. Seseorang yang bekerja hanya karena memenuhi kewajibannya saja tidak akan memiliki semangat dan etos kerja yang baik. Bekerjanya asal-asalan, tidak disiplin, tidak memiliki visi yang jelas, dan tidak komitmen dengan hasil kerja yang baik.

Orang seperti ini kalau ditanya kenapa kamu bekerja di sini? Jawabnya tidak jauh dari kalimat, “ Yah…, daripada nganggur di rumah.” Atau “ daripada diomelin isteri melulu, mendingan gue kerja, asal bisa keluar rumah”. Berapa penghasilan yang didapat, cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, tidak menjadi sesuatu yang pentung bagi dirinya.

Implikasinya dia menjadi beban kawan-kawan satu pekerjaannya dan atasannya karena banyak pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya tidak diselesaikan dengan baik. Di rumah pun dia menjadi tidak tenang dan merasa bersalah karena mendapat tuntutan dari isteri dan anak-anaknya serta tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

  1. IMBALAN/GAJI/PENGHASILAN

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan atau instansi mengharapkan imbalan atau gaji. Bahkan bukan sekedar imbalan/gaji tetapi penghasilan yang sebesar-besarnya. Ini adalah hal yang wajar, karena itu memang menjadi hak setiap orang yang bekerja.  Tetapi menjadi tidak wajar jika imbalan/ gaji/penghasilan menjadi satu-satunya orientasi sehingga seseorang berani melakukan apa saja, menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya.

Menjadi kontraproduktif jika setiap kegiatan/pekerjaan diorientasikan dengan imbalan/honor/fee. Apalagi kalau suatu kegiatan/pekerjaan tersebut sebenarnya sudah menjadi tupoksinya. Jika ada honor/imbalan dia menjadi semangat. Tetapi jika tida ada imbalan/honor dia menjadi tidak semangat.  Ungkapan-ungkapan seperti ini mungkin pernah kita dengar dari sebagian karyawan atau orang yang bekerja “ Yah nggak ada honornya… jadi males aku”,  “wong ngga ada apa-apanya … kok minta cepet”, atau “santai sajalah… ngga ada tambahannya ini…”.

Disisi lain ada sebagian orang yang berkubang dalam pekerjaan yang terlarang baik dari kaca mata aturan negara maupun agama, tidak mau meninggalkan pekerjaan tersebut karena alasan penghasilan yang besar. Kita sebut saja misalnya pembuat minuman keras, bisnis narkoba, bekerja di lokalisasi, perdagangan barang ilegal dan lain-lainnya. Jika mereka diingatkan dan diajak untuk berhenti dan mencari kerja lainnya yang sah dan halal, mereka akan berkata “gimana yah… soalnya di sini gajinya besar…?!”, “sulit cari pekerjaan yang cepat mendatangkan uang secepat ini!”, dan beribu-ribu alasan lainnya.

  1. TIDAK ADA PILIHAN LAIN

Salah satu alasan mengapa seseorang tetap bertahan pada satu pekerjaan atau pada satu perusahaan/instansi karena tidak ada pilihan lain. Orang ini sebenarnya memiliki keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih besar gajinya, tetapi dia tidak bisa diterima bekerja di tempat lain karena keterbatasan pendidikan, keahlian, usia, dan lain sebagainya. Sehingga dengan sangat terpaksa ia bekerja di tempatnya yang sekarang, “yah… daripada nggak dapet kerjaaan”.

Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan seseorang menjadi bekerja kurang semangat dan tidak optimal karena pekerjaan yang dia lakukan tidak sesuai dengan pilihan hatinya. Namun dia juga bisa bekerja dengan semangat dan optimal tergantung bisa atau tidaknya atasan/manager mengelolanya dengan baik. Pengarahan, bimbingan, contoh dan kerja sama yang baik mampu membangkitkan motivasi dan seamangat kerjanya. Begitu juga dengan rangsangan upah lembur, bonus, jasa produksi, tunjangan hari raya, dan rewards lainnya dapat memacu dia meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.

  1. SUASANA KERJA

Lingkungan pekerjaan yang baik, seperti suasana kerja yang kondusif, hubungan sesame karyawan, karyawan dengan atasan dan sesame atasan yang harmonis, sarana dan prasarana kerja yang nyaman dan memadai, keamanan yang terjaga dan lingkungan sekitar tempat kerja yang kondusif, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan seorang karyawan/pegawai merasa betah dan nyaman bekerja di suatu tempat.

Meskipun penghasilan yang diperolah tidak sebesar dengan bekerja di tempat lain, seorang pekerja akan tetap loyal jika suasana kerja terasa nyaman dan menyenangkan. Suasana kerja yang demikian secara tidak langsung akan meningkatkan kerjasa sama yang harmonis dan meningkatkan produktivitas kerja. Inilah yang mungkin menjadi salah satu alas an seseorang enggan untuk di mutasi ke tempat lain walaupun masih dalam satu kantor atau perusahaan. Misalnya seseorang sudah merasa enjoy di kantor cabang x, dia merasa nggan dan berusaha menolak dipindah ke kantor cabang y meskipun naik jabatan dan penghasilan.

Makanya sangat penting bagi pimpinan suatu perusahaan atau instansi untuk menciptakan kenyamanan lingkungan kerja agar seluruh karyawan merasa enjoy, betah dan bersemangat dalam bekerja. Jika memiliki kantor cabang yang tersebar di banyak wilayah, harus diusahan tidak ada perbedaan yang signifikan anatara kantor cabang satu dengan yang lainnya, sehingga bisa meminimalkan keengganan para karyawannya untuk dimutasi/promosi.

  1. APA YANG DIKERJAKAN

Ada sebagian orang yang merasa betah dan nyaman di suatu tempat/perusahaan/instansi karena apa yang dikerjakan adalah sesuatu yang menjadi kesenangan dan keahliannya. Atau dia merasa tertantang dengan jenis pekerjaan yang harus dia lakukan. Misalanya, ada orang yang tidak senang kalau dia harus bekerja duduk di depan komputer atau berhubngan dengan berkas-berkas, tetapi dia lebih senang bekerja di luar/di lapangan atau berhubungan dengan mesin atau peralatan tertentu. Kalau jenis pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan hati atau keinginannya maka dia akan merasa betah dan nyaman, begitu juga sebaliknya.

Dalam satu kantor atau perusahaan, seorang manager harus jeli dalam melihat kecenderungan/keahlian masing-masing karyawannya, sehingga seseorang bisa ditempatkan sesuai dengan kecenderungan/keahliannya (the right man on the right place). Penulis punya teman, dia banyak ide/gagasan yang berkaitan dengan pekerjaan dan organisasi tempat dia bekerja  yang sering disampaikan, tetapi dia ditempatkan di bagian penyusuan laporan, mestinya dia ditempatkan pada bagian riset dan development (litbang) sesuai dengan habitatnya.

  1. PENCAPAIAN

Sebagian karyawan/pegawai merasa betah/nyaman di suatu tempat dimana dia bekerja karena dia telah mencapai target atau kepuasan tertentu yang diharapkan, misalanya jumlah output minimal yang terpenuhi, tingkat kinerja tertentu yang telah dicapai atau jabatan tertentu yang telah di raihnya.

Tipe karyawan yang seperti ini menjadikan prestasi, karir, atau jabatan target utama dalam dia bekerja di suatu perusahaan/instansi. Sisi positifnya dia akan memiliki motivasi dan semangat bekerja yang tinggi untuk mewujudkan target atau tujuannya. Sisi negatifnya jika target tersebut sudah menjadi obsesinya, bisa saja dia akan melakukan apa saja termasuk hal-hal yang tidak baik yang merugikan karyawan lain atau perusahaan untuk mencapai tujuannya. Dan apabila target tidak terpenuhi, maka dia akan menjadi kontraproduktif; malas, pesimis, trouble maker dan mungkin sampai keluar/mengundurkan diri.

  1. PELANGGAN

Setiap perusahaan/instansi dalam aktivitasnya hampir dipastikan mempunyai pelanggan atau mitra kerja di luar perusahaan/instansinya. Perusahaan yang eksis dan tumbuh menjadi besar adalah perusahaan yang mampu menjaga hubungan baik dan memuaskan pelanggan. Keberhasilan perusahaan/instansi dalam memuaskan dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan sangat ditentukan oleh keberhasilan para karyawannya menjalankan tugas dan tanggung jawabnya memberikan pelayanan kepada pelanggan.

Seorang karyawan yang sudah terbiasa memberikan pelayanan kepada pelanggan akan merasa enjoy dengan kegiatannya tersebut. Apalagi jika jumlah pelanggannya semakin bertambah dan merasa puas dengan pelayanannya. Inilah yang menjadi salah satu faktor kenapa seorang karyawan enggan meninggalkan pekerjaannya atau keluar dari tempat dia bekerja.

  1. IBADAH/CINTA

Inilah motivasi bekerja yang paling tinggi tingkatannya. Semua pekerjaan yang dilakukan seseorang karena dilandasi oleh kecintaan pada pekerjaan tersebut dan diniatkan karena ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika hal ini menjadi sumber motivasi setiap pegawai/karyawan maka pengaruhnya sangat positif baik bagi karyawan yang bersangkutan maupun bagi perusahaan/instansi.